Bismillahirrahmanirrahiim....
Selena Lestari namanya, seorang wanita yang kini tepat dihadapanku mencari kamera miliknya...
tangannya agak gemetar, matanya merah dan menetaskan air mata. tapi tak bersuara.
aku tahu saat ini ia sedang sedih sedalam-dalamnya.
kamar 4x4 meter ini berantakan. semua barang dikeluarkannya. dan aku hanya terdiam di sisi pintu kamar ini. dibongkarnya lemari baju hingga seluruh bajunya berantakan dan berhamburan. tak peduli ia bagaimana akan membersihkannya kelak. tiap sudut berantakan.
ia keluar kamar, berjalan dengan tergesa-gesa dan mengetuk seluruh kamar, bertanya. 80 kamar di asrama putri ini akan dihampirinya satu per satu dengan lesu.
dan aku merasa bersalah. sangat bersalah. bukan karena tidak membantunya mencari kamera DSLR yang baru dibelinya. bukan karena aku tidak sanggup menemukannya. tapi karena aku tahu kamera itu dimana, karena aku yang menyimpannya....
ya...kemarin ketika aku hendak mengambil data proposal milik kami aku tidak sengaja menyenggolnya. hingga beberapa keping tercecer, menyentuh lantai.
bagi kami, mahasiswi jurusan jurnalistik, kamera sangat penting untuk menunjang perkuliahan kami. terlebih kamera DSLR harganya terbilang mahal. dan aku...belum sanggup menggantinya.
aku tertunduk lesu. memandangi bagaimana kami telah lama bersatu dalam asrama ini. dua tahun sudah kami menjalin cerita. namun, mengapa lensamu membuatku begitu pilu. pilu karena saat kau bertanya dimana. aku memalingkan muka dan menjawab dengan mudahnya "Tidak tahu"
Wanita itu terlalu lembut untuk disakiti, ia terlalu baik untuk dibenci. Lena, begitu ia akrab disapa. memegang erat ponselnya saat ini.
aku masuk kamar, tertunduk lesu. ditutup pintu kamarku yang letaknya berada tepat dihadapan kamarnya. dikunci kamar ini. dan aku membuka lemari. di paling bawah, kuletakkan kamera DSLR nya. ku raba dan aku perhatikan.
aku takut...aku takut jika aku jujur pada Lena. ia tidak akan percaya dan akan memusuhiku...
Ya Tuhan...apa yang harus kulakukan? aku terduduk di lantai bersandar pada dinding yang putih dan diam.
esok pagi. seperti biasa, seluruh wanita di asrama putri ini sibuk. bersiap kuliah. begitu juga aku. aku beranjak. setelah mengikat tali sepatu dan membawa ransel, aku berangkat kuliah.
aku bertemu Lena, dia tidak tampak sedih. senyum selalu menyimpul di wajah manisnya. meskipun aku tahu bagaimana sulitnya perjuangannya untuk mendapatkan kamera itu. ia berada tepat di depanku. aku pandangi bola matanya, ia lebih pendek 3 cm daripada aku. sehingga aku perlu sedikit menunduk saat memandanginya.
layaknya pagi sebelumnya dan seperti tidak terjadi apa-apa. ia menawariku masakannya, tumis sayur kangkung. suasana asrama ini berbeda ketika ada Lena. ia membawa keceriaan dan memberikan berjuta kebaikan untuk kami.
dia kini tersenyum "Jul, nih ada sayur kangkung. mau nyoba?" tanyanya dengan ceria. apa isi hatimu kawan? aku tahu engkau sedang bersedih dan binggung. kenapa engkau masih seperti ini?
aku menolaknya. menoleh ke kiri, dan segera menutup pintu. aku malu padanya. "Gak usah Len. aku buru-buru"
ia terdiam dan tetap tersenyum. "Ya udah, ada di meja makan ya" ujarnya tenang.
aku binggung. apa pikirannya? bisa-bisanya pagi ini ia sudah menyapa setiap pasang mata yang ditemuinya dengan senyum yang menenangkan wajahku namun membuatku tersayat. terluka sangat dalam.
BERSAMBUNG....
No comments:
Post a Comment