Friday, December 19, 2014

Konflik

Konflik adalah bagian dari sebuah hubungan.


Bukan tidak mungkin, 

setiap jenis hubungan akan menimbulkan konflik. 

Tapi bukan hal yang salah meminta maaf, walaupun kita tidak sepenuhnya salah. 

Namun yang jadi masalah, saat konflik tidak mengembalikan ikatan. 

Hal yang sudah dilalui seakan terbuang percuma.

19/12/14 17:40

Terlalu Cepat

Besok, ya. Besok.


Terkadang dalam hidup kita ada hal yang nampaknya terlalu cepat untuk kita hadapi. Kita, manusia biasa. Kadang tidak bisa menghadapi perubahan begitu cepat.   Terlalu cepat.



Dalam beberapa hal, kehidupan menuntut kita bergerak begitu cepat. Tuhan seakan mengatur kita untuk terburu-buru pada suatu saat. Namun tidak pada saat yang lain. Itulah hidup.

19/12/14 17:37

Wednesday, October 1, 2014

Ujian

..dan ujian, adalah untuk menaikkan kedudukan dan mendewasakan.. :)

Tes

Alhamdulillah,, akhirnya download juga aplikasi blog dari hp. Jadi bisa kapan aja ngeblog. Ga mesti melulu dari komputer/laptop

Tes..

Friday, September 5, 2014

dan semakin bertambah usia itu...




Semakin bertambah usia, mungkin aku sadar kini aku telah semakin beranjak dewasa. Berbagai keputusan, mau tak mau, harus dibuat, cepat atau lambat. Jika kita tidak berani membuat keputusan itu, kita pun sadar konsekuensi dari tidak memilih...



Ada hal yang harus kita putuskan secara matang, mungkin lebih dari 1 atau 2 bulan. Keputusan yang menurut kita akan menentukan masa depan. Sehingga karena dampaknya yang luar biasalah. Kita tidak mau terburu-buru, dalam memilih jawaban.



Terkadang, terkesan banyak pertimbangan. Tapi memang hanya kitalah yang tahu (dan Allah tentunya) apa yang kita rasakan, dan apa yang terjadi sebenarnya. 



Sehingga ketika kita memilih, orang lain mungkin beranggapan, berasumsi berbagai macam hal. Dan berkarya dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sehingga kadang mereka lupa, bahwa kitalah yang benar-benar menjalani hidup kita sendiri...

jum'at 05/09/14 8:38

Saturday, July 12, 2014

Terlambat, alpa atau nasib?

Terlambat, alpa atau nasib?

Hampir semua orang pernah terlambat, ya. Dan saya pun tidak malu untuk mengakuinya. Tidak salah sebenarnya, namun salah ketika kita tidak bisa belajar dari kesalahan kita sebelumnya. Kesalahan kita? Benarkah demikian..
Banyak orang beranggapan bahwa terlambat adalah murni kesalahan orang yang bersangkutan, bangun terlambat dlsb. Dan kadang kita lupa berpikir bijak, bahwa terlambat terkadang memang merupakan takdir yang digariskan oleh Tuhan.

…Misalnya, Andi sudah bangun pagi, katakanlah pukul 5 pagi. Dia sudah dengan benar mempersiapkan semua hal yang harus ia bawa ke sekolah lebih dulu. Ia juga sudah sarapan dan berangkat keluar sesuai jam kebiasaannya berangkat setiap hari. Yang sebelumnya tidak ada kendala terlambat macet atau halangan lain yang memungkinkan ia telat.  Berangkatlah Andi pukul 06.30 pagi. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan hanya memakan waktu 45 menit maka Andi tidak akan terlambat sampai sekolah karena bel masuk sekolah pukul 7.30, dan gerbang sekolah akan ditutup pukul 7.45.
Hal rutin yang dilakukan seseorang kadang melenakan, membuat ia lupa bahwa kemungkinan-kemungkinan adanya hambatan dari luar. Itulah yang terjadi pada Andi. Ia naik angkot seperti biasa dan menunggu. Apa mau dikata, ketika si angkot kemudian berjalan agak tersendat. Laju roda angkot tetap dipaksakan, padahal mesin sudah tidak berdaya membantunya. Semua penumpang mengeluh, protes. Itu adalah jam-jam genting bagi kebanyakan orang dengan rutinitas pagi. Sang supir kemudian turun sembari mencoba menenangkan penumpang. Ia meyakinkan bahwa itu adalah hal biasa dan akan segera benar setelah beberapa hal diperbaiki. Setelah 5 menit supir dan kernet memperbaiki, tidak terlihat hasil yang baik. Beberapa penumpang memutuskan untuk membayar dan turun, termasuk Andi yang mulai agak cemas melihat jam tangannya.
Penumpang yang turun mencari angkot lain, tapi angkot lain juga sudah penuh. Kebanyakan mereka membawa penumpang dari asal yang sama dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Beberapa memutuskan untuk iuran bersama menggunakan taksi sampai tujuan untuk angkot selanjutnya.  Termasuk Andi.
Apa daya, taksi juga banyak yang penuh. Andi terpaksa pasrah, melihat detik jam nya terus berlalu..
Mungkin, beberapa dari kita pernah mengalami hal yang serupa. Kesalahan yang kita timbulkan kadang bukan benar-benar dari kita. Dalam hal seperti itu, jika kalian beranggapan bahwa seharusnya Andi berangkat pukul 6.00, maka seharusnya ia bangun pukul 4.30. Dengan demikian ia akan sampai lebih cepat. Memperhitungkan hal seperti itu, jika ia berangkat pukul 6.00 maka keadaan jalan akan lebih lega, tidak sepadat dan semacet jika ia berangkat pukul 6.30.
Jika ia berangkat puku 6.00, ia akan sampai pukul 6.30. setengah jam? Ya, cukup setengah jam karena kondisi lalu lintas pukul 6.00 belum sepadat pukul 6.30, dan apabila angkutannya mogok, ia masih bisa punya cara lain.
Tapi mungkin pertimbangan lain ketika sampai di sekolah pukul 6.30 tidak sesederhana itu. Sudahkah pukul 6.30 gerbang sekolah di buka? Dan apa yang ia lakukan selama 1 jam menunggu di sekolah? Membuat tugaskah? Bukankah itu lebih menghabiskan banyak energi yang ia keluarkan, jika setiap hari seperti itu yang ia lakukan?
Kembali lagi pada keadaan masing-masing orang. Cerita diatas bukan mengajak kita untuk berangkat pagi-pagi sekali sehingga menunggu terlalu lama. Tapi mencoba untuk memetik pelajaran bahwa terkadang ada kesalahan yang sudah ditentukan Tuhan.

12/07/14. 12:07


Thursday, January 9, 2014

ASEAN Economic Community 2015, ancaman atau peluang?

ASEAN Economic Community 2015, ancaman atau peluang?

Arus globalisasi dan liberalisasi di seluruh dunia mau tidak mau telah menciptakan suatu dorongan terhadap daya saing yang tinggi. Menyadari pentingnya hal tersebut, seluruh negara anggota ASEAN kemudian membentuk sebuah komunitas, dengan tujuan Integrasi Ekonomi Regional pada tahun 2015 yang implementasinya akan mengacu pada AEC (ASEAN Economic Community) Blueprint.

ASEAN Economic Community 2015 memberikan peluang seluas-luasnya untuk berkembang. Disamping itu, ASEAN Economic Community 2015 memberikan kesempatan untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi globalisasi dunia. Namun, kesempatan bagiamanakah yang kita dapatkan dan daya saing seperti apakah yang nantinya harus kita hadapi?

Baiklah, tanpa perlu banyak teori. Mari kita bahas satu persatu, ASEAN Economic Community ini..

ASEAN Economic Community 2015 akan mengacu pada AEC Blueprint. AEC Blueprint memuat empat pilar utama yaitu:

1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas.

2. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan dan e-commerce.

3. ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos dan Vietnam).

4. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

Secara umum, ketika ASEAN menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal seperti poin satu (1) diatas. Peluang negara Indonesia akan semakin besar, pangsa pasar Indonesia akan semakin luas. Potensi pasar akan berkembang menjadi kurang lebih 601 juta jiwa dan mencakup wilayan 4,47 juta km persegi. Disisi lain, semakin meningkatnya persaingan dituntut pula kesiapan dan kesanggupan untuk bersaing.

Masyarakat Indonesia khususnya, sudah siapkah untuk bersaing secara langsung dengan negara anggota yang lain? Produk impor yang akan menyerbu dengan mudahnya, bisa berdampak baik bagi konsumen di Indonesia. Namun, apabila produk impor akan lebih dinikmati oleh konsumen di Indonesia, secara tidak langsung produksi dalam negeri akan mati perlahan. Konsumen dalam hal ini tidak dirugikan, dalam beberapa hal konsumen akan memilih yang lebih murah dengan kualitas baik. 

Disatu sisi, semakin banyak barang impor yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya berdampak pada matinya produksi dalam negeri tetapi juga dapat berdampak pada mengalirnya aliran uang ke luar negeri. Hal ini akan berpengaruh ke dalam neraca perdagangan Indonesia.

Apabila kita memandang dari sudut di atas, tentulah sebagian masyarakat berpendapat untuk memilih tidak berpartisipasi dalam AEC. Sebenarnya, Indonesia memiliki kelebihan dibanding negara lain. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya yang berlimpah. Sumber daya manusia negara kita bahkan merupakan 39 % dari total penduduk ASEAN. Kemudian, Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, meliputi sektor pertambangan, perminyakan dan pertanian. Kedua, pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan trend positif selama beberapa tahun terakhir. 
Dengan kondisi perekonomian global yang tengah dilanda krisis, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Meninjau apa yang sudah dibahas diatas, kita tidak perlu berkecil hati atau bahkan menutup diri. Bukankah dengan adanya persaingan kemampuan akan semakin berkembang. Secara tidak langsung, pengusaha dituntut untuk selalu berkreasi dan membuat inovasi agar tidak kalah oleh para pesaing kita dari luar negeri.


 12/07/14 22:04