Thursday, January 9, 2014

ASEAN Economic Community 2015, ancaman atau peluang?

ASEAN Economic Community 2015, ancaman atau peluang?

Arus globalisasi dan liberalisasi di seluruh dunia mau tidak mau telah menciptakan suatu dorongan terhadap daya saing yang tinggi. Menyadari pentingnya hal tersebut, seluruh negara anggota ASEAN kemudian membentuk sebuah komunitas, dengan tujuan Integrasi Ekonomi Regional pada tahun 2015 yang implementasinya akan mengacu pada AEC (ASEAN Economic Community) Blueprint.

ASEAN Economic Community 2015 memberikan peluang seluas-luasnya untuk berkembang. Disamping itu, ASEAN Economic Community 2015 memberikan kesempatan untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi globalisasi dunia. Namun, kesempatan bagiamanakah yang kita dapatkan dan daya saing seperti apakah yang nantinya harus kita hadapi?

Baiklah, tanpa perlu banyak teori. Mari kita bahas satu persatu, ASEAN Economic Community ini..

ASEAN Economic Community 2015 akan mengacu pada AEC Blueprint. AEC Blueprint memuat empat pilar utama yaitu:

1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas.

2. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan dan e-commerce.

3. ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos dan Vietnam).

4. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

Secara umum, ketika ASEAN menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal seperti poin satu (1) diatas. Peluang negara Indonesia akan semakin besar, pangsa pasar Indonesia akan semakin luas. Potensi pasar akan berkembang menjadi kurang lebih 601 juta jiwa dan mencakup wilayan 4,47 juta km persegi. Disisi lain, semakin meningkatnya persaingan dituntut pula kesiapan dan kesanggupan untuk bersaing.

Masyarakat Indonesia khususnya, sudah siapkah untuk bersaing secara langsung dengan negara anggota yang lain? Produk impor yang akan menyerbu dengan mudahnya, bisa berdampak baik bagi konsumen di Indonesia. Namun, apabila produk impor akan lebih dinikmati oleh konsumen di Indonesia, secara tidak langsung produksi dalam negeri akan mati perlahan. Konsumen dalam hal ini tidak dirugikan, dalam beberapa hal konsumen akan memilih yang lebih murah dengan kualitas baik. 

Disatu sisi, semakin banyak barang impor yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya berdampak pada matinya produksi dalam negeri tetapi juga dapat berdampak pada mengalirnya aliran uang ke luar negeri. Hal ini akan berpengaruh ke dalam neraca perdagangan Indonesia.

Apabila kita memandang dari sudut di atas, tentulah sebagian masyarakat berpendapat untuk memilih tidak berpartisipasi dalam AEC. Sebenarnya, Indonesia memiliki kelebihan dibanding negara lain. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya yang berlimpah. Sumber daya manusia negara kita bahkan merupakan 39 % dari total penduduk ASEAN. Kemudian, Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, meliputi sektor pertambangan, perminyakan dan pertanian. Kedua, pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan trend positif selama beberapa tahun terakhir. 
Dengan kondisi perekonomian global yang tengah dilanda krisis, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Meninjau apa yang sudah dibahas diatas, kita tidak perlu berkecil hati atau bahkan menutup diri. Bukankah dengan adanya persaingan kemampuan akan semakin berkembang. Secara tidak langsung, pengusaha dituntut untuk selalu berkreasi dan membuat inovasi agar tidak kalah oleh para pesaing kita dari luar negeri.


 12/07/14 22:04