Saturday, July 12, 2014

Terlambat, alpa atau nasib?

Terlambat, alpa atau nasib?

Hampir semua orang pernah terlambat, ya. Dan saya pun tidak malu untuk mengakuinya. Tidak salah sebenarnya, namun salah ketika kita tidak bisa belajar dari kesalahan kita sebelumnya. Kesalahan kita? Benarkah demikian..
Banyak orang beranggapan bahwa terlambat adalah murni kesalahan orang yang bersangkutan, bangun terlambat dlsb. Dan kadang kita lupa berpikir bijak, bahwa terlambat terkadang memang merupakan takdir yang digariskan oleh Tuhan.

…Misalnya, Andi sudah bangun pagi, katakanlah pukul 5 pagi. Dia sudah dengan benar mempersiapkan semua hal yang harus ia bawa ke sekolah lebih dulu. Ia juga sudah sarapan dan berangkat keluar sesuai jam kebiasaannya berangkat setiap hari. Yang sebelumnya tidak ada kendala terlambat macet atau halangan lain yang memungkinkan ia telat.  Berangkatlah Andi pukul 06.30 pagi. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan hanya memakan waktu 45 menit maka Andi tidak akan terlambat sampai sekolah karena bel masuk sekolah pukul 7.30, dan gerbang sekolah akan ditutup pukul 7.45.
Hal rutin yang dilakukan seseorang kadang melenakan, membuat ia lupa bahwa kemungkinan-kemungkinan adanya hambatan dari luar. Itulah yang terjadi pada Andi. Ia naik angkot seperti biasa dan menunggu. Apa mau dikata, ketika si angkot kemudian berjalan agak tersendat. Laju roda angkot tetap dipaksakan, padahal mesin sudah tidak berdaya membantunya. Semua penumpang mengeluh, protes. Itu adalah jam-jam genting bagi kebanyakan orang dengan rutinitas pagi. Sang supir kemudian turun sembari mencoba menenangkan penumpang. Ia meyakinkan bahwa itu adalah hal biasa dan akan segera benar setelah beberapa hal diperbaiki. Setelah 5 menit supir dan kernet memperbaiki, tidak terlihat hasil yang baik. Beberapa penumpang memutuskan untuk membayar dan turun, termasuk Andi yang mulai agak cemas melihat jam tangannya.
Penumpang yang turun mencari angkot lain, tapi angkot lain juga sudah penuh. Kebanyakan mereka membawa penumpang dari asal yang sama dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Beberapa memutuskan untuk iuran bersama menggunakan taksi sampai tujuan untuk angkot selanjutnya.  Termasuk Andi.
Apa daya, taksi juga banyak yang penuh. Andi terpaksa pasrah, melihat detik jam nya terus berlalu..
Mungkin, beberapa dari kita pernah mengalami hal yang serupa. Kesalahan yang kita timbulkan kadang bukan benar-benar dari kita. Dalam hal seperti itu, jika kalian beranggapan bahwa seharusnya Andi berangkat pukul 6.00, maka seharusnya ia bangun pukul 4.30. Dengan demikian ia akan sampai lebih cepat. Memperhitungkan hal seperti itu, jika ia berangkat pukul 6.00 maka keadaan jalan akan lebih lega, tidak sepadat dan semacet jika ia berangkat pukul 6.30.
Jika ia berangkat puku 6.00, ia akan sampai pukul 6.30. setengah jam? Ya, cukup setengah jam karena kondisi lalu lintas pukul 6.00 belum sepadat pukul 6.30, dan apabila angkutannya mogok, ia masih bisa punya cara lain.
Tapi mungkin pertimbangan lain ketika sampai di sekolah pukul 6.30 tidak sesederhana itu. Sudahkah pukul 6.30 gerbang sekolah di buka? Dan apa yang ia lakukan selama 1 jam menunggu di sekolah? Membuat tugaskah? Bukankah itu lebih menghabiskan banyak energi yang ia keluarkan, jika setiap hari seperti itu yang ia lakukan?
Kembali lagi pada keadaan masing-masing orang. Cerita diatas bukan mengajak kita untuk berangkat pagi-pagi sekali sehingga menunggu terlalu lama. Tapi mencoba untuk memetik pelajaran bahwa terkadang ada kesalahan yang sudah ditentukan Tuhan.

12/07/14. 12:07