Terlambat, alpa atau nasib?
Hampir
semua orang pernah terlambat, ya. Dan saya pun tidak malu untuk mengakuinya. Tidak
salah sebenarnya, namun salah ketika kita tidak bisa belajar dari kesalahan
kita sebelumnya. Kesalahan kita? Benarkah demikian..
Banyak
orang beranggapan bahwa terlambat adalah murni kesalahan orang yang
bersangkutan, bangun terlambat dlsb. Dan kadang kita lupa berpikir bijak, bahwa
terlambat terkadang memang merupakan takdir yang digariskan oleh Tuhan.
…Misalnya,
Andi sudah bangun pagi, katakanlah pukul 5 pagi. Dia sudah dengan benar
mempersiapkan semua hal yang harus ia bawa ke sekolah lebih dulu. Ia juga sudah
sarapan dan berangkat keluar sesuai jam kebiasaannya berangkat setiap hari. Yang
sebelumnya tidak ada kendala terlambat macet atau halangan lain yang
memungkinkan ia telat. Berangkatlah Andi
pukul 06.30 pagi. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan hanya memakan waktu
45 menit maka Andi tidak akan terlambat sampai sekolah karena bel masuk sekolah
pukul 7.30, dan gerbang sekolah akan ditutup pukul 7.45.
Hal
rutin yang dilakukan seseorang kadang melenakan, membuat ia lupa bahwa
kemungkinan-kemungkinan adanya hambatan dari luar. Itulah yang terjadi pada
Andi. Ia naik angkot seperti biasa dan menunggu. Apa mau dikata, ketika si
angkot kemudian berjalan agak tersendat. Laju roda angkot tetap dipaksakan,
padahal mesin sudah tidak berdaya membantunya. Semua penumpang mengeluh,
protes. Itu adalah jam-jam genting bagi kebanyakan orang dengan rutinitas pagi.
Sang supir kemudian turun sembari mencoba menenangkan penumpang. Ia meyakinkan
bahwa itu adalah hal biasa dan akan segera benar setelah beberapa hal
diperbaiki. Setelah 5 menit supir dan kernet memperbaiki, tidak terlihat hasil
yang baik. Beberapa penumpang memutuskan untuk membayar dan turun, termasuk
Andi yang mulai agak cemas melihat jam tangannya.
Penumpang
yang turun mencari angkot lain, tapi angkot lain juga sudah penuh. Kebanyakan mereka
membawa penumpang dari asal yang sama dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Beberapa
memutuskan untuk iuran bersama menggunakan taksi sampai tujuan untuk angkot
selanjutnya. Termasuk Andi.
Apa
daya, taksi juga banyak yang penuh. Andi terpaksa pasrah, melihat detik jam nya
terus berlalu..
Mungkin, beberapa dari kita pernah mengalami hal yang
serupa. Kesalahan yang kita timbulkan kadang bukan benar-benar dari kita. Dalam
hal seperti itu, jika kalian beranggapan bahwa seharusnya Andi berangkat pukul
6.00, maka seharusnya ia bangun pukul 4.30. Dengan demikian ia akan sampai
lebih cepat. Memperhitungkan hal seperti itu, jika ia berangkat pukul 6.00 maka
keadaan jalan akan lebih lega, tidak sepadat dan semacet jika ia berangkat
pukul 6.30.
Jika ia berangkat puku 6.00, ia akan sampai pukul
6.30. setengah jam? Ya, cukup setengah jam karena kondisi lalu lintas pukul
6.00 belum sepadat pukul 6.30, dan apabila angkutannya mogok, ia masih bisa
punya cara lain.
Tapi mungkin pertimbangan lain ketika sampai di
sekolah pukul 6.30 tidak sesederhana itu. Sudahkah pukul 6.30 gerbang sekolah
di buka? Dan apa yang ia lakukan selama 1 jam menunggu di sekolah? Membuat tugaskah?
Bukankah itu lebih menghabiskan banyak energi yang ia keluarkan, jika setiap
hari seperti itu yang ia lakukan?
Kembali lagi pada keadaan masing-masing orang.
Cerita diatas bukan mengajak kita untuk berangkat pagi-pagi sekali sehingga
menunggu terlalu lama. Tapi mencoba untuk memetik pelajaran bahwa terkadang ada
kesalahan yang sudah ditentukan Tuhan.
12/07/14. 12:07